Breaking News

Cinta Antar Planet Spaceman

Aku nggak pernah nyangka cinta bisa datang dari luar angkasa. Maksudku, aku tahu cinta itu rumit di bumi, tapi cinta antar planet? Itu levelnya beda banget. Semua bermula ketika aku ditempatkan di misi patroli antar planet, menjaga agar jalur orbit tetap aman dan meneliti fenomena langit yang aneh. Aku pikir misi ini bakal biasa-biasa aja: laporan rutin, eksperimen, tidur, ulang lagi. Tapi ternyata, hidup kadang suka bercanda.

Namanya Lyra. Aku pertama kali ketemu dia waktu mendarat di planet yang jauh dari bumi, warnanya merah muda seperti matahari senja, dan permukaannya berkilau seperti kaca. Lyra bukan manusia. Dia spaceman juga, tapi dari koloni lain, bukan bumi. Awalnya aku cuma lihat dia dari jauh, lagi memeriksa panel surya yang melayang-layang di udara tanpa gravitasi. Dia punya aura aneh yang bikin aku penasaran: tenang, tapi energik, serius tapi nggak kaku.

Hari demi hari, aku dan Lyra sering kebetulan bertemu di orbit atau di stasiun luar angkasa. Awalnya cuma ngobrol ringan—“Oh, kamu juga patroli di sektor beta?” atau “Hati-hati sama meteor kecil itu.” Tapi lambat laun, obrolan itu mulai nyangkut di kepala. Aku mulai menunggu-nunggu saat dia muncul di jendela modul, dengan helmnya yang dipoles mengkilap dan senyum yang—entah kenapa—selalu bikin gravitasi hatiku ikut melayang.

Yang lucu, komunikasi kami nggak selalu gampang. Bahasa tiap koloni beda, jadi kami kadang cuma pakai kombinasi gerakan tangan, suara elektronik, dan emoji hologram. Tapi anehnya, itu nggak bikin hubungan kami ribet. Malah, tiap salah paham selalu bikin kami ketawa. Aku pernah salah paham dan kira Lyra marah, padahal dia cuma menirukan ekspresi robot kecil di stasiun. Kami ketawa sampai modul bergetar karena tertawa.

Cinta antar planet ternyata juga punya tantangan unik. Misalnya, jadwal orbit kami nggak selalu sama, jadi kadang harus kirim pesan lewat satelit, menunggu berjam-jam sampai dia membalas. Aku sering menatap layar komunikasi sambil mikir, “Apa Lyra lagi makan galaksi kecil itu atau lagi tidur di planetnya?” Tapi setiap kali balasannya muncul, selalu ada emoji hologram berbentuk hati, dan rasanya semua lelah hilang.

Ada satu momen yang nggak akan pernah aku lupain. Kami berhasil mengatur pertemuan di tengah orbit antara dua planet. Tidak ada gravitasi, hanya kami, stasiun mini yang mengambang, dan pemandangan bintang tak berujung. Lyra menyodorkan tangannya, dan aku meraih tangannya. Rasanya aneh, tapi juga indah—seperti bumi dan langit bersatu, hanya saja kami yang jadi saksi.

Aku belajar sesuatu dari cinta ini: jarak, bahasa, bahkan planet berbeda, nggak selalu jadi penghalang kalau ada niat dan hati yang sama. Kadang, cinta justru muncul di tempat yang paling nggak terduga, di tengah orbit yang sunyi, dengan bintang sebagai saksi. Aku dan Lyra, dua spaceman dari planet berbeda, menemukan bahwa meski jarak antar planet jauh, hati bisa tetap dekat.

Dan sekarang, setiap kali aku menatap bumi dari jendela modul, aku nggak cuma mikirin rumah. Aku juga mikirin Lyra, senyumannya, dan cara dia membuat hatiku melayang lebih tinggi daripada orbit manapun.